Home arrow Program Gizi arrow Vitamin A arrow Garam beriodium
Garam beriodium PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 19 November 2007
Garam Fortifikasi tripel Atasi Kurang Gizi

Kurang gizi menjadi masalah besar, terutama di kalangan masyarakat miskin Indonesia. Garam bervitamin A, iodium, dan zat besi bisa dicoba sebagai solusi.

Seorang pejabat negara pernah berkomentar bahwa kasus kekurangan gizi tidak mungkin terjadi di Indonesia. Faktanya, di tahun 2000, data Departemen Kesehatan mencatat, jumlah balita kurang gizi mencapai 5.014.997 orang. Dua tahun berikutnya, organisasi dunia untuk pendidikan dan anak-anak (UNICEF) melaporkan 23,5 juta balita di Indonesia menderita gizi buruk.

Selain soal gizi makro, kekurangan gizi mikro seperti zat besi, iodium, vitamin A, serta mineral lain juga begitu memprihatinkan. Contohnya, tahun 2000, Depkes menyatakan sekitar 9.026.825 balita mengalami defisiensi vitamin A.

Sumber: Senior

Bank Dunia menggambarkan dampak kurang gizi mikro pada kesejahteraan masyarakat. Negara seperti Indonesia, misalnya, setiap tahun bakal kehilangan 20.000 orang  karena kematian, 11.000 anak lahir cacat, 360.000 anak kehilangan kesempatan belajar karena tidak naik kelas atau putus sekolah. Lalu, sekitar 1,3 juta orang kehilangan kesempatan kerja karena produktivitasnya rendah.

Paling Efektif

Ada banyak masalah yang melatarbelakangi semua itu, sebutlah faktor ekonomi, pendidikan (ketidaktahuan), adat istiadat, dan lainnya. Alan Berg, mantan penasihat senior Bank Dunia untuk masalah gizi, menyatakan pemahaman penanggulangan masalah gizi tak cukup dengan pelayanan kesehatan.

Meski terkait dengan pangan, masalah kurang gizi tak bisa sekadar diatasi dengan meningkatkan produksi pangan. Dan meski masalah gizi merupakan sindroma kemiskinan, pemecahannya tak harus menunggu sampai mentas dari situasi ini.

Di sinilah fortifikasi masuk. Ini adalah upaya meningkatkan mutu gizi makanan dengan menambahkan satu atau lebih zat gizi mikro.

Ahli gizi Prof. Soekirman menyebutkan, idealnya perbaikan gizi ditempuh melalui perbaikan konsumsi makanan sehari-hari dengan menu gizi seimbang. Namun, karena kemiskinan dan daya beli masyarakat rendah, tidak semua anggota masyarakat mampu memenuhi tuntutan standar ini.

Di negara-negara Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, juga Amerika Serikat, fortifikasi terbukti berjasa mengatasi masalah kurang gizi mikro. Tidak heran, Bank Dunia menyatakan bahwa fortifikasi merupakan program gizi yang paling cost-effective dibanding program lain.

Dengan biaya sama atau lebih kecil, program fortifikasi memberikan manfaat lebih besar. Selain kecap kedelai, kecap ikan, tepung terigu, mi, beras, tepung jagung, ada garam yang bisa digunakan sebagai makanan pembawa.

Zat Besi dan Vitamin A

Di beberapa negara seperti Cina, kecap difortifikasi dengan zat besi, asam folat, dan vitamin A. di India, tepung terigu difortifikasi dengan bahan yang sama, juga di Filipina. Di Thailang, mi difortifikasi dengan iodium, vitamin A, dan zat besi.

Di Indonesia, pilihan garam untuk difortifikasi merupakan langkah yang dianggap tepat karena hampir setiap orang menggunakannya sebagai bahan penambah rasa makanan.

Selama ini kita mengenal fortifikasi iodium pada garam. Ternyata sebuah teknologi yang ditemukan di Swiss tahun 1921 membuat garam juga bisa difortifikasi dengan zat besi dan vitamin A. Teknologi ini dianggap sebagai terobosan baru.

Menurut Giharto Goenawan, pemilik UD Kalian, produsen garam Progizi, penambahan atau fortifikasi garam dengan zat besi dan iodium secara bersamaan tidaklah mudah. "Karena keduanya saling meniadakan," kata pria yang mendapat penghargaan sebagai produsen teladan garam beriodium dari UNICEF ini. Untungnya, tim dari Puslitbang Gizi IPB mampu melakukannya.

DR. Nurul L. Ida Soeid, MS, peneliti dan dosen di Jurusan Kimia FMIPA Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, mengungkapkan bahwa penelitian garam fortifikasi ganda (GFG) pernah dilakukan oleh para ahli di Universitas Toronto, Kanada. Penelitian selama sepuluh tahun lebih itu menghabiskan dana kurang lebih 3 juta dolar AS.

Hasil penelitian tim dari Jurusan Biokimia Pascasarjana IPB menunjukkan, GFG yang terbuat dari KIO3 sebagai somber iodium dan besi elemental enkapsulasi sebagai sumber zat besi sangat stabil selama enam bulan penyimpanan, bahkan bisa lebih dari itu. Kestabilan ini ditandai oleh warna, rasa, bau, serta kandungan iodium dan besi yang tidak berubah secara berarti.

Penambahan zat gizi lain seperti vitamin A juga dapat dilakukan. Karena itu, garam ini tak hanya memberikan rasa asin. Masalah kekurangan vitamin dan mineral dasar pun mampu teratasi.

Buktinya, tambah Nurul, responden di Desa Junrejo, Jawa Timur yang diberi konsumsi garam dengan forkifikasi tripel setiap hari selama tiga bulan menunjukkan peningkatan kadar Hb rata-rata sangat berarti, dari 11,5 g/dl menjadi 12,8 g/dl. Status besi darah juga meningkat dari 80,5 mg/dl menjadi 100,6 mg/dl.

Jadi, gunakan garam fortifikasi tripel agar bebas dari kurang gizi.

Keuntungan Fortifikasi:

  • Efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
  • Murah (<Rp 20/orang/hari).
  • Sangat praktis dan aman karena gizi sudah terkandung di dalam garam yang dikonsumsi setiap hari dala dosis relatif tetap.
  • Asupan gizi dalam jumlah signifikan (tidak berlebih) secara kontinyu dan jangka panjang.


Dampak kekurangan gizi mikro:

Zat Besi:
  • Produktivitas kerja menurun. Kerugian Rp 8,9 triliun per tahun.
  • Kerugian ekonomi delapan tahun ke depan Rp 110,2 triliun.
  • Anak usia 6-24 bulan yang mengalami gangguan otak 40-60 persen.
  • Tiap tahun 2.300 ibu meninggal saat hamil atau melahirkan.
  • Sekitar 26.000 bayi berisiko mati sebelum atau sesudah dilahirkan.

Iodium:
  • Sejumlah 400.000 bayi per tahun mengalami gangguan intelektual.
  • Kerugian ekonomi 8 tahun ke depan Rp 35,2 triliun.

Vitamin A:
  • Sekitar 25 persen anak Indonesia memiliki kekebalan rendah (mudah infeksi).

Seng:
  • Gangguan pertumbuhan fisik.
  • Gangguan perkembangan mental.
  • Gangguan kekebalan.
Sumber: Senior, Sabtu 18 Agustus 2007
 
Last Updated ( Monday, 19 November 2007 )
 
< Prev   Next >